ARKANA~ Setiap penulisan fiksi memiliki rahim tempat ia dikandung—sebuah konteks sosial, batin, dan historis yang melandasinya. Dalam hal ini, Kerumunan adalah Neraka lahir bukan sekadar dari keinginan estetik, melainkan dari pergolakan kolektif dan permenungan personal selama pandemi yang mengguncang dunia.
Novel ini tidak hadir dari kejauhan yang steril, melainkan ditulis dari tengah pusaran: di saat ketakutan menjalar di antara ruang publik dan ruang batin, saat orang-orang saling curiga hanya karena batuk, saat dunia tiba-tiba terasa kecil, tertutup, dan penuh isyarat pengusiran atas kerumunan orang. Kerumunan yang biasanya menjadi lambang kekuatan kolektif, justru menjadi sesuatu yang paling ditakuti. Itulah awal mula gagasan ini muncul bahwa “kerumunan bisa menjadi neraka”.
Ketakutan Kolektif dan Kerinduan akan Makna
Pengalaman hidup di tengah pandemi menyisakan luka kolektif yang tidak mudah dipulihkan. Ketika solidaritas menjadi retorika kosong, ketika warga lebih percaya pada desas-desus dibanding kebijakan publik, ketika mistik menjadi penjelasan yang lebih masuk akal daripada data sains—di situlah narasi ini menemukan pijakannya.
Desa Gayam dan Desa Kampung Tujuh dalam novel bukan sekadar latar, tetapi representasi dari banyak desa yang kehilangan keseimbangan antara tradisi dan modernitas, antara iman dan ilmu. Saya menulis desa ini bukan untuk meromantisasi desa di Indonesia, tetapi untuk menunjukkan bahwa konflik batin dan sosial bisa hadir di tempat yang paling “tenang” sekalipun.
Fiksi sebagai Laboratorium Etika dan Iman
Penulisan novel ini juga menjadi cara untuk menguji gagasan-gagasan filosofis dalam lanskap naratif. Apa jadinya jika Jean-Paul Sartre hadir di tengah genderuwo? Apa makna kartu tarot The Empress dalam konteks gotong royong yang membusuk? Apa arti kebaikan jika ia lahir dari ketakutan massal?
Dalam novel ini, karakter seperti Mudra dan Vanua bukan sekadar tokoh, tetapi wadah bagi pertarungan ide: antara tradisi dan ilmu, antara trauma dan penyembuhan, antara individu dan kerumunan. Lewat mereka, saya bertanya: apakah mungkin membangun komunitas yang sehat, ketika fondasinya adalah rasa takut?
Menulis dari Luka, Menulis untuk Harapan
Saya menulis Kerumunan adalah Neraka bukan sebagai penjelasan, tetapi sebagai penjelajahan. Bukan untuk memberi jawaban, melainkan membuka kemungkinan baru untuk memahami kompleksitas manusia di tengah krisis.
Saya percaya bahwa fiksi memiliki kekuatan untuk menampung yang tak tertampung oleh laporan atau berita. Di dalam cerita-cerita yang tampaknya “mistis”, saya menyisipkan kegelisahan yang nyata: tentang hilangnya kepercayaan, pengabaian terhadap lingkungan, dan ancaman disintegrasi sosial.
Namun lebih dari itu, saya juga ingin menyampaikan harapan: dari reruntuhan kepercayaan, masih bisa tumbuh kebersamaan yang baru—asal kita mau menyapu jalan bersama, menyalakan api unggun, dan mendengarkan cerita satu sama lain pada malam yang sunyi.*



Post a Comment