ARKANA~ Setelah menelusuri dinamika internal “Universitas Pasca-Metafisika”, kini kita akan beralih ke fondasi filosofis dari pemikiran Habermas yang menjadi kerangka analisis. Tulisan ini akan menjadi jembatan yang menghubungkan narasi “Universitas Pasca-Metafisika” dengan landasan teoretis dari dokumen Habermas yang menjadi acuan. Penulis akan membabar gagasan Habermas tentang Zur Frage einer Genealogie nachmetaphysischen Denkens (Tentang Pertanyaan Genealogi Pemikiran Pasca-Metafisika), dan bertanya: mengapa Yang Lain, dalam hal ini peradaban kuno Yunani-Romawi, menjadi cermin bagi peneguhan diri Eropa?
Dalam teks Habermas, dijelaskan bahwa peneguhan diri (Selbstvergewisserung) Eropa, terutama dalam tradisi Kristen, terus-menerus berulang melalui sebuah proses dialektis: modernitas Eropa selalu melihat ke belakang, ke cermin masa lalu Yunani-Romawi. Kaum moderni (die moderni) tidak hanya meniru, tetapi juga secara aktif menafsirkan ulang, mengkritik, dan bahkan melampaui kaum kuno (die antiken) untuk mendefinisikan siapa diri mereka. Proses ini terjadi di berbagai bidang, mulai dari seni, literatur, filsafat, hingga politik, yang menjadikan antiquitas sebagai titik acuan yang tak pernah usang.
Penulis berargumen bahwa Habermas menyajikan cermin ini bukan sebagai objek statis, melainkan sebagai medium yang memungkinkan dialog trans-historis. Melalui cermin ini, Eropa dapat melakukan refleksi kritis terhadap dirinya sendiri. Ia dapat melihat yang mana ia telah berhasil melampaui masa lalu, dan ia masih terikat olehnya. Dengan kata lain, genealogi Habermas bukanlah sekadar sejarah, tetapi sebuah narasi yang bertujuan untuk menjelaskan asal-usul dan identitas sebuah peradaban.
Namun, pertanyaan yang diajukan oleh "Universitas Pasca-Metafisika" adalah: bagaimana genealogi ini dapat diaplikasikan pada konteks Indonesia? Penulis akan menggunakan narasi “Universitas Pasca-Metafisika”, khususnya melalui karakter Adhigama, untuk mengusulkan sebuah “genealogi tandingan”. Jika cermin Eropa adalah antiquitas Yunani-Romawi, maka cermin Indonesia adalah tradisinya sendiri, seperti wayang, keris, batik, dan topeng Cirebon.
Kita masih bisa mengeksplorasi simbol-simbol budaya itu yang memiliki fungsi setara dengan antiquitas di Eropa. Simbol-simbol budaya itu adalah artefak yang mengandung memori kolektif, nilai-nilai etis, dan narasi yang telah membentuk identitas bangsa. Sama seperti kaum moderni Eropa menafsirkan ulang Homer atau Plato, Adhigama dalam “Universitas Pasca-Metafisika” berusaha menafsirkan ulang wayang dan gamelan di era digital. Ini adalah upaya untuk melakukan peneguhan diri yang otentik, yang tidak hanya mengadopsi kerangka berpikir Barat, tetapi juga berdialog dengan akar budaya sendiri.
Penulis juga akan menganalisis konsep moderni dan via moderna yang disebutkan Habermas dalam kaitannya dengan pembaharuan diri. Di Eropa, via moderna adalah jalur teologi dan filsafat. Di Indonesia, penulis berargumen bahwa jalan modern juga bisa melalui estetika dan seni. Melalui seni, Indonesia dapat melakukan dialog antara Yang Kuno dan Yang Modern secara lebih cair dan simbolis. Seni menjadi sebuah bahasa yang mampu menampung kompleksitas identitas yang tidak bisa dijelaskan oleh filsafat semata.
Namun, ada satu perbedaan penting: cermin Indonesia tidak sebersih cermin Eropa. Tradisi Indonesia tidak pernah benar-benar menjauh atau mati; ia terus-menerus berada dalam sebuah kontestasi dengan modernitas. Akibatnya, peneguhan diri di Indonesia menjadi sebuah proses yang lebih rumit, yang mana tradisi tidak hanya menjadi cermin, tetapi juga arena pertarungan, seperti yang digambarkan oleh orasi Sari.
Genealogi ala Habermas perlu ditafsirkan ulang dalam konteks Indonesia. "Universitas Pasca-Metafisika" bukan sekadar cerita tentang mahasiswa filsafat, tetapi sebuah proyek filosofis yang mengusulkan genealogi tandingan untuk sebuah bangsa yang sedang mencari identitasnya di tengah dunia yang retak.



Post a Comment