-->
BWlBduTUUim65BmNoRNRwZwviGLcUft1snoGQp4W

Search This Blog

Bookmark

Menulis dari Tengah Pandemi: Antara Diri, Dunia, dan Desas-desus

ARKANA~  Tak ada ruang yang lebih sunyi sekaligus penuh gema daripada masa pandemi. Di tengah keterbatasan fisik dan sosial, saya menulis Kerumunan adalah Neraka dari tempat yang sama dengan tokoh-tokohnya: dunia yang dipenuhi ketakutan, ketidakpastian, dan bisik-bisik. Esai ini adalah cermin dari bagaimana proses menulis novel ini berlangsung: bukan dari menara gading, tetapi dari pusaran kabut yang sama yang menyelimuti Desa Gayam, Desa Kampung Tujuh dan beberapa kota dalam ingatan kolektif kita.

Novel ini tidak ditulis dari kejauhan yang tenang, melainkan dari tengah kerumunan yang mencekam. Di dunia nyata, desas-desus tentang virus, konspirasi, bahkan makhluk gaib menyebar lebih cepat daripada vaksin. Hal yang sama terjadi di novel: ketakutan warga terhadap pandemi bercampur dengan mitos-mitos kuno, menciptakan realitas yang lebih menakutkan daripada kenyataan.

Menulis dari Luka yang Masih Basah

Vanua hadir sebagai simbol dari saya yang bergulat dengan luka kolektif. Ia datang dari kota-kota yang penuh trauma, mencoba mencari ketenangan di desa. Namun, seperti saya, ia menemukan bahwa ketenangan adalah ilusi. Di desa pun, ketakutan punya wajah sendiri: bukan lewat sirene ambulans, tetapi lewat lolongan anjing malam, suara tawa kuntilanak, dan bayang-bayang beringin tua.

Saya menulis dari tengah situasi yang mana informasi dan disinformasi bercampur seperti kabut. Warga lebih percaya pada bisikan tetangga dan grup chatting daripada pengumuman resmi yang ilmiah. Logika runtuh, digantikan oleh logika ketakutan. Dalam menulis, saya tidak memilih antara realisme atau supranaturalisme tetapi saya menulis keduanya sebagai kenyataan yang tumpang tindih di kepala banyak orang selama pandemi.

Desas-desus sebagai Bahan Baku Sastra

Bagi saya, desas-desus bukan sekadar latar, tapi struktur naratif itu sendiri. Setiap bab dibangun dari “apa yang katanya terjadi” dan “apa yang sebenarnya dirasakan”. Di titik ini, saya ingin menyampaikan bahwa desas-desus adalah bagian dari cara masyarakat memahami dunia saat nalar gagal. Dalam novel, dedemit tidak lebih nyata dari virus. Tapi keduanya hidup di kepala dan tubuh warga, menciptakan trauma yang sama dalam bentuk berbeda.

Menulis novel ini adalah menulis kembali semua yang saya dengar selama pandemi: tawa kecil di balik masker, obrolan tentang makhluk gaib di warung kopi, ketakutan yang tak bisa dijelaskan dengan data. Saya mengumpulkan semua itu, meraciknya, dan menjadikannya dunia fiksi yang tidak terlalu fiktif.

Menulis untuk Menjaga Waras

Ketika dunia menjadi terlalu gila, saya menulis untuk tetap waras. Novel ini bukan sekadar usaha estetik, tapi semacam terapi kolektif. Setiap bab adalah cara untuk berkata: “Aku juga takut.” Tapi juga, “Aku tidak sendiri.”

Menulis dari tengah pandemi membuat saya menyadari bahwa sastra tidak lahir dari ketenangan, tapi dari kegelisahan yang menemukan bentuknya. Saya tidak menulis sebagai orang yang sudah mengerti segalanya, tapi sebagai orang yang sedang mencari: makna, harapan, dan kemanusiaan yang mungkin terselip di balik berita duka dan kabar buruk.

Menulis sebagai Tindakan Sosial

Esai ini menegaskan bahwa Kerumunan adalah Neraka adalah tulisan dari dalam—bukan dari luar peristiwa. Saya tidak sedang mencatat sejarah, tapi menafsirkan trauma. Saya tidak sedang membuat dongeng, tapi mencoba memahami mitos-mitos yang hidup bersama kita.

Menulis novel ini adalah cara saya menolak ikut panik, tapi juga menolak untuk pasrah. Dengan kata-kata, saya menegaskan: bahkan dalam gelap, kita masih bisa berbagi cahaya—entah lewat fiksi, desas-desus, atau sekadar secangkir kopi di warung Bu Minah.*


0

Post a Comment