-->
BWlBduTUUim65BmNoRNRwZwviGLcUft1snoGQp4W

Search This Blog

Bookmark

Menulis Desa dari Dalam Luka

ARKANA~  Menulis tentang Desa bukan perkara sederhana. Ia menuntut keberanian untuk menembus kabut romantisme masa lalu sekaligus untuk mengakui luka yang masih menganga di tubuh masyarakat hari ini. Dalam Kerumunan adalah Neraka, saya menyisipkan pesan menjadikan Desa bukan hanya latar, tetapi juga subjek dan medan perlawanan.

Pergaulan saya dengan aktivis, peneliti, dan pelaku pemerintahan di Desa telah mengajarkan banyak hal terutama tentang desa sebagai pusat dinamika sejarah yang tak terlihat. Narasi tentang desa berkelindan dengan kolonialisme, feodalisme, dan nasionalisme. Desa menjadi arena kompleks antara kekuasaan, pendidikan, dan identitas. Saya tergerak untuk melanjutkan warisan ini dengan menghadirkan Desa Gayam dan Desa Kampung Tujung sebagai lanskap psiko-sosial tempat luka sejarah dan kecemasan modern bersemayam bersama.

Desa Gayam dan Desa Kampung Tujuh dalam novel ini bukan desa yang steril dari politik. Justru ia penuh dengan sisa-sisa trauma masa kolonial, pandemi yang mematikan, krisis gas elpiji, krisis pendapatan akibat tempat wisata desa ditutup, konflik kepemimpinan, dan ketakutan kolektif yang termanifestasi lewat mitos dedemit. Tapi tidak seperti narasi populer yang menjadikan desa sebagai tempat yang terbelakang dan magis semata, saya menggali suara dari dalam desa. Saya tidak menempatkan narator luar sebagai pengamat, tetapi mempersilakan tokoh-tokohnya—Sari, Vanua, Mudra, Bu Ros, Kepala Desa Gayam, Ki Rajendra—untuk menarasikan dari dalam luka.

Luka menjadi kata kunci penting. Desa dalam Kerumunan adalah Neraka adalah desa yang terluka oleh berbagai kegagalan: negara yang absen tapi terkadang muncul mengejutkan sebagai kekuatan instruksi protokol kesehatan, elit lokal yang kadang jujur tapi juga tergoda berbuat manipulasi, dan modernisasi yang merenggut ritme hidup alami. Dalam hal ini, saya seolah menyapa para aktivis desa itu dari kejauhan: kita tak bisa membangun masa depan desa tanpa menyelami trauma yang tak selesai.

Namun, saya tak jatuh dalam kesedihan ketika Desa dihantam isolasi pada masa pandemi. Cerita tentang cara Sari bergerak dengan keris Pasopati menjadi jembatan antara masa lalu dan masa kini. Cerita itu menjadi alat untuk menyembuhkan, atau paling tidak, memberi makna atas kekacauan. 

Menulis dari dunia kehidupan desa adalah cara untuk tidak menghilang dari luka yang membentuk kita. Dengan menulis desa, kita memulihkan ingatan, dan sekaligus membuka ruang bagi masa depan.

Gaya bahasa dalam novel ini setidaknya memperlihatkan sensibilitas terhadap idiom dan irama tutur masyarakat desa. Saya berupaya tidak memaksakan bahasa akademik atau urban, tetapi membiarkan dialog dan narasi berkembang dengan kebijaksanaan lokal. Ini membuat desa hadir bukan sebagai objek eksotis, melainkan sebagai ruang hidup yang otentik.

Penting pula dicatat bahwa saya tidak sendirian dalam arus ini. Banyak penulis atau pengarang Indonesia yang mungkin sudah menulis dari dan tentang desa, sebagai bentuk perlawanan terhadap dominasi narasi kota. Tapi yang membuat novel ini unik, sepanjang pengalaman saya menulis tentang Desa, baru kali ini saya memiliki keberanian untuk menyatukan mitos, kritik sosial, dan tafsir filosofis dalam satu tubuh narasi. Desa bukan tempat yang sunyi, tetapi tempat bagai sejarah, horor, dan harapan bertemu.

Setelah membaca ulang novel ini, posisi saya beralih dari pengarang menjadi pembaca dan akhirnya menjadi penulis, lalu menemukan bahwa menulis tentang desa dari dalam luka adalah tindakan radikal. Menolak untuk melupakan. Menolak untuk melepaskan masa lalu dari tubuh. Menulis dari belantara luka sosial --dan dari sanalah muncul kekuatan sastra yang membebaskan.*


0

Post a Comment