ARKANA~ Kerumunan adalah Neraka tidak hanya membangun kisah melalui simbol-simbol horor dan supranatural, tetapi juga memperkenalkan sebuah dunia mitologis yang mengakar dalam tradisi lokal. Namun, mitologi ini tidak disajikan secara eksotik semata—ia adalah kritik halus terhadap homogenisasi spiritual yang dibawa oleh monoteisme modern. Melalui karakter, lanskap, dan ritual desa, novel ini menghadirkan semacam “pembalasan kultural” terhadap sistem keyakinan tunggal yang menyingkirkan pluralitas makna spiritual.
Leluhur, Roh Penjaga, dan Kekuatan Tanah
Dalam berbagai fragmen novel, kita menjumpai kehadiran roh-roh lokal seperti Ni Grenjeng, Nyi Lorong, Raja Batu dan dedemit penjaga hutan. Mereka bukanlah entitas jahat murni, tetapi makhluk yang menuntut hormat, keseimbangan, dan kesadaran ekologis. Misalnya, dalam adegan penebusan di pusaran air, para tokoh harus melepaskan ego dan dosa kolektif untuk kembali disambut oleh roh leluhur. Ini adalah bentuk teologi partisipatif, bukan penebusan oleh satu figur ilahi, tetapi oleh komunitas yang kembali menyatu dengan tanah dan leluhurnya.
Ini kontras dengan sistem monoteistik yang sering mengangkat pemisahan antara dunia suci dan dunia profan. Dalam novel ini, tidak ada “surga jauh”—yang ada adalah pohon, sungai, dan gunung yang bicara. Bukan dalam bentuk wahyu tunggal, tetapi dalam bisikan dan tanda yang hanya bisa dipahami oleh mereka yang masih mendengarkan.
Perlawanan terhadap Narasi Penaklukan
Dukun dalam novel ini bukan sekadar antagonis. Ia adalah representasi dari mereka yang kehilangan tempat di dunia baru yang terlalu cepat menyingkirkan tradisi lama. Ia muncul dari gua yang tersembunyi, membawa kitab kuno, dan menuntut pengakuan kembali terhadap kekuatan yang dahulu dihormati.
Monoteisme modern sering datang dengan klaim tunggal atas kebenaran spiritual. Ia membentuk institusi, dogma, dan otoritas tunggal. Sebaliknya, mitologi lokal dalam novel ini bersifat cair: ia tumbuh dari tubuh desa, suara angin, ritual gamelan, dan perempuan yang berbicara dengan air. Ini adalah spiritualitas yang bersifat horisontal dan ekologis, bukan hierarkis dan normatif.
Spiritualitas Multipolar dan Keintiman dengan Dunia
Tokoh-tokoh seperti Ki Rajendra, Sari, dan Mudra menjembatani dunia-dunia yang berbeda. Mereka membaca makna kartu tarot, berbicara dengan pohon, dan tetap kritis terhadap kemapanan. Ki Rajendra, misalnya, bukan nabi tapi penafsir. Ia tidak membawa wahyu, tetapi mendekati makna dengan kartu tarot dan simbol, membiarkan makna tetap ambigu dan terbuka.
Ini adalah bentuk kritik terhadap spiritualitas tunggal. Dunia dalam novel tidak tunduk pada satu kebenaran metafisis, melainkan dipenuhi oleh narasi-narasi kecil yang saling bertaut. Kebenaran bukan sesuatu yang diturunkan dari langit, tetapi dibangun dari pengalaman, dialog, dan keberanian untuk merayakan keragaman makna.
Mitologi yang Membebaskan
Mitologi lokal dalam novel ini bukan nostalgia romantis, tetapi strategi literer untuk mengungkap potensi emansipatoris dari spiritualitas yang berakar pada tanah dan tubuh kolektif. Ia menolak dominasi narasi ilahi tunggal yang sering kali tidak memadai menjelaskan trauma lokal, ketakutan ekologis, dan kebutuhan akan kesembuhan sosial yang konkret.
Alih-alih memilih Tuhan yang jauh, Kerumunan adalah Neraka memilih roh yang hadir dalam pusaran air, kartu tarot yang dipegang oleh tangan yang bijak, dan suara gamelan yang tidak hanya menghibur tetapi juga membuka dimensi mistik dalam realitas. Ini bukan bentuk politeisme teologis, melainkan pluralisme eksistensial. Makna dibangun bukan dari kebenaran absolut, tetapi dari kesediaan untuk mendengarkan dunia dengan cara yang lebih lembut dan penuh hormat.*



Post a Comment