ARKANA~ Meski makhluk halus seperti kuntilanak dan dedemit hadir dengan intensitas tinggi dalam Kerumunan adalah Neraka, esensi novel ini jauh melampaui genre horor konvensional. Hantu-hantu itu bukan protagonis sejati. Justru manusialah—dengan kecemasan, trauma, dan keyakinannya—yang menjadi pusat cerita. Ketakutan yang ditampilkan bukan hanya berasal dari luar, tetapi dari dalam. Bukan hanya tentang makhluk astral, melainkan tentang luka sosial, ketegangan politik lokal, dan kegagalan komunitas dalam membangun kepercayaan.
Dari awal, Vanua hadir sebagai tokoh skeptis yang menolak keberadaan dedemit. Ia menegaskan bahwa yang ia percaya adalah logika dan rasionalitas. Tapi seiring perkembangan cerita, ia menyadari bahwa ketakutan tak bisa didekati hanya dengan pisau analisis ilmiah. Ketakutan di Desa Gayam dan Desa Kampung Tujuh bersifat eksistensial dan kolektif: sebuah respons terhadap krisis yang tak kunjung reda, terhadap dunia yang kehilangan pegangan.
Dedemit sebagai Simbol
Dalam novel ini, dedemit bukan monster. Mereka adalah simbol. Kuntilanak menjadi wajah kesedihan dan kehilangan. Pocong menandakan masa lalu yang belum dikuburkan dengan layak. Genderuwo adalah kekuatan liar yang tak dikendalikan oleh tatanan sosial. Dan tuyul mencerminkan kecemasan terhadap keadilan ekonomi. Saya berimajinasi, hantu-hantu ini bisa menjelma menjadi alegori dari ketimpangan dan luka yang tak tertangani secara sosial dan kultural.
Ketika warga desa merasa terjebak dalam kutukan, itu bukan karena mereka bodoh atau terlalu percaya pada mitos. Justru karena mereka sedang mengalami krisis besar: pandemi (pagebluk, istilah Jawa), kesenjangan sosial, dan kehilangan pemimpin yang bisa dipercaya. Dalam kondisi itu, cerita tentang hantu menjadi cara untuk memberi bentuk pada kekacauan yang tak tertangkap oleh bahasa sehari-hari.
Desa Sebagai Cermin Bangsa
Kerumunan adalah Neraka adalah narasi lokal yang memantulkan kondisi global. Ketika Sari membacakan cerita-cerita dedemit kepada anak-anak, ia sedang membangun cara berpikir baru—ketakutan bisa dijinakkan, cerita bukan alat menakut-nakuti tetapi alat menyembuhkan. Ini bukan soal membantah atau membenarkan mitos, tapi bagaimana memahami pesan-pesan kultural di dalamnya.
Vanua dan Mudra, dengan pendekatan rasional dan spiritual masing-masing, mencoba menciptakan harmoni di tengah krisis epistemologis masyarakat desa. Mereka menjadi dua kutub yang berusaha menyeimbangkan ketegangan antara kepercayaan dan pengetahuan. Dan melalui proses itu, pembaca disadarkan bahwa neraka bukan sekadar tempat atau makhluk. Neraka adalah disintegrasi makna, rusaknya solidaritas, dan runtuhnya rasa percaya antarmanusia.
Kita Adalah Horor yang Kita Takuti
Sari menuliskan dalam catatannya bahwa "dedemit adalah cermin". Mereka bukan entitas dari dunia lain, melainkan bayangan dari sisi gelap manusia—ketakutan, kebencian, keserakahan, kesepian. Maka, ketika pembaca merasa takut, sesungguhnya yang mereka takutkan bukanlah kuntilanak, melainkan ketakutan mereka sendiri yang tidak dikenali.
Saya merasakan ketika membaca ulang novel ini. Mungkin inilah kekuatan novel ini: menggeser fokus dari "mereka" ke "kita". Ia menolak menjadikan hantu sebagai objek eksotis, dan justru menempatkan pembaca dalam posisi reflektif—apa sebenarnya yang kita takuti?



Post a Comment