ARKANA~ Dalam Kerumunan adalah Neraka, pembaca tidak hanya diajak menyelami horor supranatural atau metafisika ketakutan, tetapi juga dihadapkan pada eksperimen naratif yang memadukan dua kutub: realisme sosial dan fiksi spekulatif. Novel ini seperti berdiri di jembatan antara kenyataan dan imajinasi, menghadirkan kehidupan desa secara detail dan empatik, lalu menghancurkan batas itu dengan kehadiran makhluk tak kasatmata, kekuatan alam gaib, dan kartu tarot yang berbicara.
Ketegangan Antara Fakta dan Imajinasi
Desa Gayam ditampilkan bukan sebagai ruang eksotik yang terisolasi, tetapi sebagai komunitas yang sedang bergumul dengan dampak pandemi, krisis ekonomi, pergeseran nilai sosial, dan ketegangan antara generasi tua dan muda. Ini adalah narasi realisme sosial: harga cabai yang naik, balai desa yang sepi, warung Bu Minah yang merosot omzetnya. Namun, di sisi lain, narasi ini ditembus oleh kehadiran bayangan, suara-suara, kuntilanak, genderuwo, dan dedemit yang membentuk lapisan spekulatif di atas realitas.
Kontras ini menjadi alat eksperimentasi sastra: bagaimana jika yang spekulatif bukan hanya pelarian dari realitas, tetapi cara untuk menjelaskannya secara lebih mendalam? Fiksi spekulatif dalam novel ini tidak bertentangan dengan realisme, tetapi menjadi lensa untuk melihat kenyataan batin kolektif.
Vanua dan Rasionalitas yang Diuji
Tokoh Vanua adalah perwujudan dari realisme rasional: ia tidak percaya pada dedemit, hanya pada data dan observasi. Namun justru melalui sudut pandangnya, pembaca melihat batas-batas penjelasan ilmiah mulai retak. Ketika ia menyaksikan fenomena yang tidak dapat dijelaskan, atau ketika warga desa pingsan karena ketakutan pada kuntilanak, maka narasi spekulatif justru menjadi satu-satunya jalan keluar bagi pembacaan terhadap "realitas" sosial yang tidak lagi rasional.
Novel ini mempertanyakan: apakah realisme cukup untuk menjelaskan pengalaman manusia? Ataukah kita membutuhkan bentuk-bentuk pengetahuan lain—ritual, mitos, metafora, bahkan dedemit?
Desa sebagai Laboratorium Eksperimen Sosial
Kerumunan adalah Neraka menjadikan desa sebagai ruang laboratorium untuk uji coba berbagai gagasan sosial: bagaimana gotong royong bisa bertahan di tengah krisis? Bagaimana rumor bisa menghancurkan atau membangun komunitas? Bagaimana tokoh seperti Mudra dan Sari mengelola ketakutan agar tidak menjadi kekacauan?
Namun dalam eksperimen ini, fiksi spekulatif berfungsi bukan untuk menakut-nakuti, melainkan sebagai alat konseptual: bagaimana jika kuntilanak adalah trauma tak terucapkan? Bagaimana jika genderuwo adalah rasa bersalah kolektif? Bagaimana jika hantu sebenarnya adalah metafora dari kehilangan struktur sosial?
Realisme yang Terlalu Nyata
Yang membuat eksperimen ini tampak berhasil adalah karena realisme dalam novel ini membumi—nyaris seperti catatan etnografi: percakapan warung, kegelisahan warga, struktur musyawarah desa, hingga aroma makanan dan cara berpakaian. Ini menciptakan rasa “terlalu nyata”, yang justru membuat unsur spekulatif menjadi semakin meresahkan karena ditanamkan dalam tanah yang familiar.
Dalam dunia seperti ini, realisme sosial tidak lagi cukup. Maka spekulatif hadir bukan sebagai fantasi, tapi sebagai jendela menuju lapisan-lapisan realitas yang tidak tertangkap logika: ketakutan, memori kolektif, dan energi tak bernama yang bergerak di antara ruang-ruang komunitas.*



Post a Comment