-->
BWlBduTUUim65BmNoRNRwZwviGLcUft1snoGQp4W

Search This Blog

Bookmark

Ruang Publik di Era Algoritma


ARKANA~  Ketika Jürgen Habermas mengembangkan teori ruang publik (Öffentlichkeit) pada tahun 1960-an, ia membayangkannya sebagai sebuah arena yang mana warga negara dapat berkumpul dan berdiskusi secara rasional untuk membentuk opini publik. Namun, "Universitas Pasca-Metafisika" menempatkan teori ini pada sebuah tantangan terbesar di abad ke-21: media sosial. Melalui alur dan dinamika tokoh, “Universitas Pasca-Metafisika” menguji dan memperbarui konsep ruang publik Habermas, menunjukkan bagaimana ia terfragmentasi, dikolonialisasi, tetapi juga berpotensi untuk direkonstruksi di era algoritma.

“Universitas Pasca-Metafisika” menunjukkan bahwa ruang publik digital jauh dari ideal Habermas. Alih-alih menjadi arena diskusi yang rasional, platform seperti X, Threads, Instagram, Facebook, dan TikTok digambarkan sebagai medan pertempuran yang kacau dan penuh gejolak. Tindakan komunikatif yang otentik, seperti argumen yang cermat dan berlandaskan fakta, seringkali kalah dengan propaganda digital, misinformasi, dan keramaian emosi. Algoritma menjadi aktor baru yang kuat, yang tidak netral. Mereka membentuk ruang publik menjadi echo chambers yang terfragmentasi, yang mana individu hanya mendengar suara-suara yang menguatkan keyakinan mereka sendiri.

Kisah Rajendra, yang sibuk men-scroll berita terkini tentang perang di Gaza, adalah cerminan dari kondisi ini. Ia adalah seorang intelektual yang mencoba mencari kebenaran, tetapi ia harus berjuang di tengah aliran informasi yang tak terbatas, yang mana setiap klip video dan cuitan membawa narasi yang berbeda dan seringkali bertentangan. Perjuangan Rajendra adalah ilustrasi yang sempurna dari bagaimana rasionalitas universal Habermas teruji oleh partikularisme naratif di dunia digital.

Namun, “Universitas Pasca-Metafisika” tidak sepenuhnya pesimistis. Ia menunjukkan bahwa media sosial juga dapat menjadi ruang publik alternatif bagi intelektual digital yang baru. Para mahasiswa yang merekam konten filsafat dengan gaya santai adalah perwujudan dari agen-agen baru yang berupaya merekonstruksi ruang publik di tengah keruntuhannya. Mereka membawa diskusi filsafat keluar dari aula simposium yang formal dan kaku, dan membawanya ke platform yang lebih mudah diakses. Ini adalah sebuah praksis yang menunjukkan, tindakan komunikatif tidak harus mati, ia hanya perlu menemukan bentuk-bentuk baru yang relevan.

Di sisi lain, “Universitas Pasca-Metafisika” juga memperingatkan kita tentang kolonisasi sistem terhadap dunia kehidupan di media sosial. Wayang underground yang dicari oleh Adhigama adalah sebuah upaya untuk menemukan kembali ruang publik yang otentik, yang mana seni dan tradisi dapat dihargai demi dirinya sendiri, bukan sebagai komoditas digital yang diukur dari jumlah like dan shares. “Universitas Pasca-Metafisika” menunjukkan bahaya ketika nilai-nilai budaya dan spiritual direduksi menjadi konten yang dapat dikonsumsi dan dimonetisasi.

Dengan demikian, "Universitas Pasca-Metafisika" memberikan alat analisis yang kuat bagi pembaca untuk secara kritis melihat bagaimana media sosial memengaruhi pandangan dunia mereka. “Universitas Pasca-Metafisika” mengajarkan pembaca untuk membedakan antara dialog yang otentik dan manipulasi digital. Ia mengundang kita untuk merenungkan bagaimana kita dapat berpartisipasi dalam ruang publik digital secara bertanggung jawab, tanpa kehilangan rasionalitas dan sensitivitas kita.

Filsafat tidak bisa lagi mengabaikan realitas digital. “Universitas Pasca-Metafisika” adalah sebuah panggilan untuk mengembangkan filsafat media sosial yang dapat membantu kita menavigasi kompleksitas era ini, untuk membangun kembali ruang publik yang retak, dan menemukan makna yang baru di tengah lautan informasi yang tak terbatas.


0

Post a Comment