-->
BWlBduTUUim65BmNoRNRwZwviGLcUft1snoGQp4W

Search This Blog

Bookmark

Topeng dan Revolusi


ARKANA~  Jika pada bab sebelumnya kita menyelami akar historis sekularisasi, maka dalam Bab 3: Cermin yang Retak dalam “Universitas Pasca-Metafisika”, kerangka filosofis tersebut berbenturan dengan realitas politik yang keras. Penulis menggeser fokus cerita dari diskusi teoretis di dalam aula simposium ke orasi seorang mahasiswa aktivis bernama Sari. Orasi ini bukanlah sekadar protes, melainkan sebuah tesis politis yang tajam. Ia menuduh kapitalisme digital telah mencuri makna dari tradisi, mengubahnya menjadi komoditas tanpa ruh. Di sini, penulis menarik garis paralel, menghubungkan pandangan Sari dengan pemikiran Habermas tentang bagaimana Revolusi Prancis mengakhiri tatanan lama dan menjadikan agama sebagai relik yang diromantisasi.

Menurut Habermas, sebagai konsekuensi dari revolusi dan sekularisasi, agama dan tradisi dipandang sebagai sesuatu yang indah, tetapi sudah usang. Mereka menjadi relik yang diromantisasi—dipuja sebagai bagian dari warisan budaya, namun tidak lagi memiliki kekuatan untuk menentukan arah kehidupan publik. Revolusi Prancis, dalam hal ini, bertindak sebagai sebuah kapak yang memisahkan yang sakral dari Yang Profan secara paksa. Di sisi lain, Sari dalam “Universitas Pasca-Metafisika” berargumen bahwa kapitalisme digital memainkan peran yang mirip. Namun, alih-alih dijinakkan, tradisi kini dikomodifikasi. Mereka tidak hanya menjadi relik yang diromantisasi, tetapi juga barang dagangan yang diperjualbelikan.

Orasi Sari membuka mata para karakter lain, dan mungkin juga pembaca, terhadap lapisan lain dari krisis makna. Di satu sisi, ada Adhigama yang berupaya merevitalisasi tradisi melalui apresiasi mendalam, namun di sisi lain, Sari melihat hiasan batik digital di lobi kampus bukan sebagai simbol kebanggaan, melainkan sebagai bukti nyata dari pencurian yang dilakukan oleh kapitalisme global. Dalam pandangan Sari, batik telah kehilangan daya sakralnya dan kini menjadi ornamen yang menguntungkan korporasi. Ini adalah sebuah kritik materialistis yang menempatkan tradisi bukan sebagai objek filsafat, tetapi sebagai objek politik dan ekonomi yang diperebutkan.

Penulis menggunakan orasi Sari untuk menunjukkan, tradisi dalam kisah “Universitas Pasca-Metafisika” memiliki status yang berbeda dengan agama dalam konteks Habermas. Tradisi tidak hanya diromantisasi, tetapi juga menjadi sebuah arena pertarungan. Wayang, keris, dan patung Semar bukan lagi sekadar simbol budaya yang netral. Mereka adalah artefak yang memiliki daya politis yang kuat. Kepemilikan dan penafsirannya menjadi sebuah bentuk perebutan kekuasaan. Sari percaya bahwa kekuasaan tafsir telah berpindah dari komunitas ke tangan pasar, dan universitas, dengan segala modernitasnya, justru menjadi pelayan dari proses komodifikasi ini.

Orasi Sari sengaja ditempatkan sebagai sebuah intervensi yang mengganggu konsensus yang semu di dalam kampus. Orasi ini memecah keheningan intelektual dan memaksa para karakter, termasuk Rajendra dan Adhigama, untuk menghadapi kenyataan bahwa krisis makna tidak hanya terjadi di ranah teoretis, tetapi juga di jalanan, yang mana mahasiswa filsafat berteriak menuntut keadilan. Hal ini memperkaya “Universitas Pasca-Metafisika” dengan dimensi praksis yang penting, melengkapi diskusi filosofis dengan aksi nyata.

Perdebatan ini juga menyentuh peran universitas itu sendiri. Jika Universitas Metafisika Jakarta, yang dipimpin oleh Profesor Rinaldi, berupaya menjadi dermaga wacana yang netral, maka orasi Sari menunjukkan bahwa kenetralan itu adalah ilusi. Universitas, dengan gedung-gedungnya yang dihiasi elemen tradisional, tidak bisa melepaskan diri dari kontestasi makna yang terjadi di sekelilingnya. Mural Semar berdampingan dengan Habermas yang dilukis oleh mahasiswa, meskipun bermaksud menyatukan tradisi dan modernitas, dapat juga ditafsirkan sebagai bentuk kooptasi—menjinakkan yang lokal dengan mencocokkannya ke dalam kerangka berpikir yang global.

Sari, dalam orasinya, seolah-olah mengusung romantisme yang berbeda, yaitu romantisme yang mencoba kembali ke kemurnian tradisi yang belum terjamah oleh kapitalisme. Namun, “Universitas Pasca-Metafisika” juga secara halus bertanya: apakah romantisme semacam itu tidak berisiko jatuh ke dalam nostalgia yang naif? Di sinilah penulis menyajikan kompleksitas, setiap solusi memiliki biaya filosofis dan politisnya sendiri.

Sebagai penulis, saya menggunakan orasi Sari sebagai jembatan yang menghubungkan Bab 1 (simposium) dan Bab 2 (seni) dalam “Universitas Pasca-Metafisika” dengan realitas politik yang lebih besar. Ia adalah karakter yang mengingatkan, filsafat tidak bisa diisolasi dari kehidupan, dan makna yang kita cari tidak hanya berada dalam teks-teks klasik, tetapi juga dalam pertarungan sehari-hari untuk mendefinisikan identitas dan keadilan.

Kisah krisis makna di "Universitas Metafisika Jakarta yang berubah menjadi Universitas Pasca-Metafisika Jakarta" tidak hanya filosofis, tetapi juga politis. Ia adalah pertarungan untuk mengendalikan tafsir atas masa lalu, masa kini, dan masa depan. Pertarungan ini tidak hanya terjadi di dalam pikiran karakter, tetapi juga di dalam ruang publik kampus, yang mana topeng dan revolusi menjadi dua sisi dari koin yang sama.



0

Post a Comment