-->
BWlBduTUUim65BmNoRNRwZwviGLcUft1snoGQp4W

Search This Blog

Bookmark

Visi Universitas yang Retak


ARKANA~  Setelah mengupas tuntas segala tantangan yang disajikan oleh krisis pasca-metafisika, "Universitas Pasca-Metafisika" tidak berakhir dengan pesimisme. Sebaliknya, ia menawarkan sebuah visi yang berani dan transformatif, yaitu Universitas Pasca-Metafisika itu sendiri. Visi ini dapat diinterpretasikan sebagai sebuah utopia yang realistis, sebuah konsep yang berbeda dari utopia klasik yang seringkali digambarkan sebagai dunia yang sempurna. “Universitas Pasca-Metafisika” menunjukkan, utopia di era pasca-metafisika bukanlah tentang kembali ke fondasi yang utuh, melainkan tentang mengakui keretakan dan membangun sesuatu yang baru dari pecahan-pecahan yang tersisa.

Jika kita melihat dunia digital yang penuh dengan misinformasi, perpecahan, dan kolonisasi Sistem sebagai sebuah dystopia, maka visi universitas yang baru adalah utopia yang menjadi penawarnya. Namun, ini adalah utopia yang tidak naif. Ia tidak menawarkan solusi instan atau kebenaran mutlak. Sebaliknya, ia menawarkan sebuah metode, sebuah prosedur untuk terus bertanya. Nama universitas itu sendiri, Pasca-Metafisika, adalah sebuah pengakuan jujur bahwa fondasi mutlak telah runtuh. Visi ini didasarkan pada luka dan harapan, bukan pada doktrin yang tak tergoyahkan.

Visi ini sangat sejalan dengan proyek rekonstruktif Habermas. Habermas tidak ingin kembali ke masa lalu, tetapi ingin membangun kembali Dunia Kehidupan (Lebenswelt) yang telah retak akibat kolonisasi Sistem. Visi universitas ini adalah sebuah perwujudan institusional dari proyek tersebut. Universitas ini menjadi sebuah institusi yang mengakui, luka sosial adalah titik awal untuk wacana, dan harapan adalah bahan bakar yang mendorong tindakan komunikatif. Dengan kata lain, universitas ini adalah sebuah laboratorium sosial yang mana proyek rekonstruktif Habermas dapat diimplementasikan dalam skala nyata.

Transformasi universitas ini juga memiliki makna simbolis yang mendalam. Ia adalah sebuah pernyataan bahwa institusi-institusi modern—bahkan yang paling mapan seperti universitas—harus memiliki keberanian untuk mempertanyakan fondasi mereka sendiri. Sebuah institusi tidak bisa bertahan hanya dengan mengulang doktrin lama, ia harus berani menjadi tempat bagi pertanyaan adalah rumah, dan jawaban hanya batu pijakan untuk bertanya lebih jauh. Kalimat ini adalah manifesto dari sebuah utopia yang dinamis dan tiada henti.

Mural Semar berdampingan dengan Habermas adalah visualisasi dari utopia ini. Mural tersebut melambangkan sebuah dunia yang mana kearifan lokal dapat berdialog secara setara dengan rasionalitas universal. Ini adalah utopia yang tidak homogen tapi merayakan perbedaan dan keragaman sebagai sumber kekuatan, bukan sebagai ancaman. Ini adalah utopia yang mengakui bahwa pluralisme adalah sebuah fakta yang tak terhindarkan, dan tugas kita bukanlah untuk menghilangkannya, melainkan untuk mengelolanya melalui dialog yang konstruktif.

Visi “Universitas Pasca-Metafisika” ini juga memberikan sumber harapan yang tidak naif bagi pembaca. Di tengah berita-berita tentang perpecahan, politik identitas, dan krisis iklim, cerita fiksi ini menunjukkan bahwa perubahan positif masih mungkin. Namun, perubahan tersebut tidak akan datang dari sebuah kebenaran tunggal, melainkan dari sebuah proses rekonstruksi yang terus-menerus. “Universitas Pasca-Metafisika” mengajak pembaca untuk percaya pada kekuatan wacana, dialog, dan tindakan yang didasarkan pada luka dan harapan kita.

Pada akhirnya, visi Universitas Pasca-Metafisika adalah sebuah utopia yang mengajarkan kita untuk tidak takut pada keretakan. Visi kampus fiksi ini menunjukkan bahwa keretakan bukanlah akhir dari segalanya, melainkan sebuah peluang untuk membangun kembali dengan cara yang lebih jujur, inklusif, dan relevan dengan tantangan zaman. Ini adalah sebuah utopia rekonstruktif yang menginspirasi pembaca untuk menjadi bagian dari proses pembangunan tersebut di dunia kehidupan mereka sendiri.


0

Post a Comment